Dari gadis kecil di Magelang yang menulis di balik sampul buku pelajaran, hingga penulis yang karyanya dibaca ratusan ribu orang.
Sari Rahayu Setyawati, yang menulis dengan nama pena Sari Pena, lahir di Magelang pada 14 Februari 1984. Ia tumbuh di lingkungan yang tidak kaya secara materi, tetapi kaya akan cerita — nenek dan ibunya adalah tukang dongeng alami yang menemaninya tidur dengan narasi panjang setiap malam.
Kecintaannya pada membaca dimulai dari perpustakaan kecil di sudut sekolah dasarnya. Di sana ia menemukan bahwa sebuah buku bisa membawa seseorang ke tempat yang tidak pernah ia bayangkan. Dan dari situlah tekad itu tumbuh: ia ingin menulis buku yang bisa membawa orang lain ke tempat seperti itu.
Sari menempuh pendidikan Sastra Indonesia di Universitas Gadjah Mada, tempat ia mulai serius mempelajari teori dan praktek menulis fiksi. Setelah lulus, ia sempat bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan di Jakarta selama lima tahun — pengalaman yang ia sebut sebagai "sekolah sunyi yang paling berharga."
Novel pertamanya, Bukit di Tepi Sore, diterbitkan pada 2012 ketika ia berusia 28 tahun. Sejak itu, ia tidak pernah berhenti menulis. Kini ia tinggal di Yogyakarta bersama suami, dua anak, dan perpustakaan pribadi yang terus membesar.
"Saya tidak menulis untuk dianggap pintar. Saya menulis karena ada cerita-cerita yang tidak akan hilang jika saya tidak menuliskannya."
— Sari PenaPenulis Novel & Blogger Sastra
Yogyakarta, Indonesia
Tumbuh di lingkungan keluarga yang kaya cerita rakyat Jawa. Belajar membaca di usia 4 tahun dari buku-buku dongeng kakak perempuannya.
Di usia 12 tahun, menyelesaikan "novel" pertama — 40 halaman tulisan tangan di buku tulis bergaris. Dipamerkan di mading sekolah dan mendapat sambutan hangat.
Diterima di jurusan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada. Di sini ia mulai serius mempelajari teori naratif, kritik sastra, dan menulis fiksi secara terstruktur.
Bekerja sebagai editor di Gramedia Pustaka Utama selama lima tahun. Mengedit lebih dari 80 naskah — pengalaman yang mengajarkannya cara melihat kekuatan dan kelemahan sebuah cerita dari luar.
Setelah bertahun-tahun membantu orang lain mewujudkan buku, ia mulai menulis naskah pertamanya sendiri di atas meja makan apartemen kecil di Jakarta.
Novel debut diterbitkan Bentang Pustaka. Mendapat ulasan positif dari kritikus sastra dan terjual habis dalam cetak pertama dalam dua bulan.
Mengundurkan diri dari pekerjaan editorial dan pindah ke Yogyakarta untuk menulis secara penuh waktu. Memulai blog sastra yang kini memiliki 45.000 pembaca tetap.
Diterbitkan di tengah pandemi, novel ini justru menjadi fenomena. Terjual 70.000 eksemplar dan masuk daftar 5 buku fiksi terbaik versi Kompas.
Meraih Penghargaan Sastra Khatulistiwa untuk kategori Fiksi Terbaik dengan novel Debu di Balik Tirai — karya yang ia anggap paling jujur dan paling dekat dengan dirinya sendiri.
Selain menulis, Sari secara rutin mengajar workshop penulisan kreatif di berbagai kota dan festival sastra.
Program 8 pertemuan intensif untuk penulis pemula yang ingin menyelesaikan naskah pertama mereka. Kuota 12 peserta.
Sesi live via video conference untuk peserta dari seluruh Indonesia. Topik: karakter, plot, dialog, dan revisi.
Reguler hadir di Ubud Writers Festival, Festival Sastra Yogyakarta, dan Indonesia International Book Fair.