Ilustrasi: Fragmen prasasti tembaga dengan aksara Pallawa, replika digital.
Dunia arkeologi Indonesia kembali diguncang oleh sebuah penemuan luar biasa. Tim peneliti dari Departemen Arkeologi Universitas Indonesia, bekerja sama dengan Balai Arkeologi Sumatera Selatan, berhasil mengangkat sebuah lempengan tembaga berukiran aksara Pallawa dari lapisan tanah sedalam 2,4 meter di kawasan situs percandian Muara Jambi, Provinsi Jambi. Temuan ini diyakini berasal dari rentang waktu antara abad ke-7 hingga ke-8 Masehi, tepat pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya sebagai pusat pendidikan agama Buddha di Asia Tenggara.
Proses Ekskavasi yang Penuh Kejutan
Ekskavasi di Muara Jambi sebenarnya telah berlangsung selama bertahun-tahun, namun lapisan tanah yang mengandung prasasti ini baru terjangkau setelah tim menggunakan teknologi Ground Penetrating Radar (GPR) generasi terbaru. Pada hari ke-47 penggalian, seorang arkeolog muda bernama Rizky Aditya merasakan sentuhan metalik saat menyapu debu dengan kuas halus. Setelah proses pembersihan selama lebih dari 12 jam, terungkaplah lempengan tembaga sepanjang 38 sentimeter dengan lebar 24 sentimeter yang permukaannya terukir rapi baris-baris aksara kuno.
— Rizky Aditya, Arkeolog Junior, Universitas Indonesia
Isi Prasasti: Donasi untuk Vihara Agung
Setelah proses pembacaan awal oleh epigraf Dr. Sujatno Harimurti dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta, diketahui bahwa prasasti tersebut merupakan piagam donasi dari seorang bangsawan Sriwijaya bernama Dapunta Sailendra kepada sebuah vihara besar di kawasan Muara Jambi. Donasi berupa tanah pertanian seluas sekitar 400 hektar beserta puluhan keluarga petani yang mengelolanya. Vihara ini disebutkan memiliki lebih dari 1.000 pelajar yang datang dari berbagai penjuru Asia, termasuk dari Kerajaan Champa (Vietnam), Dinasti Tang (Tiongkok), dan dari berbagai wilayah di India.
Temuan ini memperkuat teori para sejarawan bahwa Muara Jambi bukan sekadar kompleks candi biasa, melainkan merupakan sebuah kota universitas (universitas) Buddha terbesar di Asia Tenggara pada masanya. Beberapa catatan peziarah Tiongkok dari abad ke-7 menyebut bahwa belajar di Sriwijaya adalah prasyarat bagi biksu yang ingin melanjutkan studi di Nalanda, India — pusat pendidikan Buddha terkemuka di dunia kuno.
Signifikansi bagi Sejarah Nasional
Menurut Prof. Dr. Agung Purnomo dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), penemuan ini membawa beberapa implikasi penting bagi pemahaman kita tentang peradaban Nusantara. Pertama, ia membuktikan bahwa sistem pendidikan terorganisir di wilayah Indonesia sudah ada sejak lebih dari 1.300 tahun yang lalu. Kedua, temuan ini menunjukkan bahwa Sriwijaya bukan hanya kekuatan militer dan perdagangan, tetapi juga kekuatan intelektual yang mempengaruhi perkembangan agama dan filsafat di seluruh Asia. Ketiga, aksara Pallawa yang digunakan dalam prasasti ini merupakan nenek moyang dari berbagai aksara lokal Nusantara yang masih digunakan sebagian komunitas adat hingga saat ini.
Prasasti ini kini sedang dalam proses konservasi di laboratorium Balai Konservasi Borobudur sebelum nantinya dipamerkan kepada publik. Pemerintah Provinsi Jambi bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menyatakan akan menjadikan penemuan ini sebagai momentum untuk mempercepat penetapan Muara Jambi sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO — sebuah status yang telah diperjuangkan selama lebih dari dua dekade.
Doktor arkeologi dari Universitas Leiden, Belanda. Telah menulis lebih dari 40 artikel ilmiah tentang peradaban maritim Nusantara dan memimpin 12 ekspedisi arkeologi di Sumatra dan Kalimantan.